[gambar dari pantaugambut.id]
Pernah mendengar lahan gambut? Gambut merupakan jenis tanah yang istimewa dan sering disebut sebagai pahlawan karbon. Mau tau alasannya? Beberapa waktu lalu, Cleanomic berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Pantau Gambut melalui sesi Instagram LIVE. Keep on reading to know more about our previous discussion!

Apa itu gambut?

Sebelum masuk ke manfaat dari lahan gambut yang terpelihara dengan baik, let’s touch on pengertian dari lahan gambut terlebih dahulu. Gambut sendiri terbentuk dari bahan-bahan organik yang tertimbun selama bertahun-tahun. Mulai dari sisa-sisa pepohonan, rumput, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. 

Apa manfaatnya?

Kalau ngomongin manfaatnya, wah banyak banget! Salah satunya, kemampuan lahan gambut dalam menyerap air. Karena struktur tanahnya menyerupai sponge, lahan gambut mampu menyerap air hingga berkali-kali lipat dibandingkan dengan berat lahan itu sendiri.
Pada musim hujan, lahan gambut menyimpan air dan pada saat musim kering datang, ia akan melepas pelan-pelan ke area di sekitarnya. Dengan fungsi lahan gambut yang demikian, area di sekitarnya tidak akan kekeringan pada saat musim kemarau dan tidak akan kebanjiran pada saat curah hujan terlalu tinggi.
Selain fungsinya sebagai penyimpan air (atau yang sering disebut tandan air), lahan gambut juga mampu menyimpan karbon. Menurut data yang dipublikasikan Pantau Gambut, seluruh lahan gambut di Indonesia mampu menyimpan emisi setara dengan 17 – 33 miliar mobil pribadi selama setahun. Isn’t that amazing? 
Nah, jika lahan gambut ini rusak, misalnya kering, terbakar atau dialihfungsikan, lahan gambut dapat melepas karbon dioksida ke udara yang dapat memicu efek rumah kaca. Kebayang kan dampaknya kalau lahan gambut tidak terpelihara? Mulai dari menyebabkan banjir, kemarau berkepanjangan yang dapat menyebabkan gagal panen, hingga mengganggu keseimbangan iklim.
Selain manfaatnya untuk menyimpan air dan menyimpan karbon, lahan gambut juga memiliki manfaat ekonomi terutama untuk orang-orang di sekitarnya. Misalnya, produk anyaman purun, jahe merah, dan keripik tenas yang merupakan produk hasil pengolahan lahan gambut.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Clean Economic (@cleanomic) on

Then what can we do?

Dari level individu, kita bisa secara lebih selektif memilih produk yang kita konsumsi. Banyak lho, produk-produk hasil dari lahan perkebunan sawit yang ada di sekeliling kita, sebut aja minyak goreng, bedak, sabun, shampoo. 
At this point you might be thinking, lalu apa hubungannya produk dari perkebunan sawit dengan terpeliharanya lahan gambut? Jawabannya, karena lahan gambut sering dibuka untuk dijadikan perkebunan sawit mengingat sawit akan tumbuh subur di lahan yang kering. And most of the time, pembukaan lahan gambut seringkali ditempuh dengan cara dibakar dan dikeringkan.
Nah, dengan kita selektif memilih produk yang kita gunakan, kita mengontrol demand yang ada di pasaran sehingga perusahaan yang tidak ramah dengan lahan gambut tidak melakukan ekspansi secara terus menerus. Prinsipnya masih sama dengan prinsip gaya hidup berkelanjutan pada umumnya, yaitu untuk berpikir kembali sebelum mengonsumsi produk apa pun. Rethinking is the key!
Selain usaha-usaha yang bisa dilakukan dalam level individu, kita juga bisa melakukan usaha secara kolektif, misalnya mendorong pemerintah untuk lebih berkomitmen dalam pengelolaan lahan gambut. Juga untuk meninjau kembali izin usaha yang di atas lahan gambut. This one is a long shot tapi bukan berarti tidak mungkin.

Terus treatment seperti apa yang paling ramah untuk gambut?

Sebelum menentukan treatment yang tepat, kita harus mengetahui dulu bahwa lahan gambut ini terbagi menjadi beberapa zona. Ada zona lindung serta zona budidaya. Kita tidak boleh mengotak-atik zona lindung sedangkan zona budidaya boleh banget untuk dimanfaatkan, namun harus dengan praktik-praktik yang ramah gambut.
Pilih tanaman yang endemik gambut, atau tanaman yang memang hanya dapat tumbuh dan ditemukan di lahan gambut, misalnya geronggang, jelutung, kangkung air. Intinya praktik ramah gambut sih simpel saja, tidak boleh dikeringkan.
Struktur gambut yang menyerupai sponge, kalau sudah sampai tahap kering, sifatnya akan menyerupai arang. Kalau terkena air, airnya tidak akan menyerap dan akan mengalir saja. Gambut pun kehilangan fungsinya sebagai penyimpan air.

Kalau sudah terbakar, lalu bagaimana?

Perlu adanya restorasi, revegetasi, dan revitalisasi. Restorasi berarti mengeringkan kembali ke fungsi semula. Restorasi ini dapat dilakukan dengan cara dibasahkan kembali (re-wetting). Meski memang bisa dilakukan restorasi, prosesnya sendiri memakan waktu bertahun-tahun (kembali ke prinsip bahwa gambut yang sudah kering akan sulit menyerap air). Jadi memang, mencegah lebih baik dan lebih mudah dibanding mengobati.
Setelah proses restorasi dan lahan gambut sudah mulai memiliki fungsinya kembali, lahan gambut bisa ditanam kembali. Tentunya dengan pemilihan tanaman yang ramah jika ditanam di lahan gambut. Sagu misalnya, yang memang bagus ditanam di lahan basah dan asam seperti gambut.
Last but not least, perlu dilakukan proses revitalisasi, yaitu membangun kembali roda ekonomi di sekitar lahan gambut yang kering dan terbakar. Membuat produk-produk hasil jadi dari lahan gambut yang siap dijual, salah satu contohnya.
Kalau ada yang penasaran praktik pengeringan gambut untuk dimanfaatkan menjadi lahan sawit, this is how they do it. Mereka membuat kanal-kanal di lahan gambut, sehingga sifat alami air yang mencari tempat lebih rendah pun akan mengalir dan keluar dari kanal-kanal tersebut.
Sedangkan untuk proses restorasinya sendiri, kanal ini harus ditutup dan disekat, supaya air tidak merembes kemana-mana dan menjadikannya ia kering. Meski udah disekat pun, lahan gambut perlu butuh aliran air tambahan, misalnya air hujan atau pembasahan secara terus menerus setiap hari.
Nah, itu dia serba-serbi tentang gambut yang perlu kita ketahui, mulai dari apa itu gambut, manfaat gambut, dan urgensinya mengapa kita harus menjaga lahan gambut ini secara kolektif. Kalau masih ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam mengenai gambut secara spesifik, kamu bisa kunjungi laman website Pantau Gambut. Di sana ada cerita-cerita dari penduduk sekitar lahan gambut juga. Go check their website out untuk mendapatkan gambaran langsung dari mereka yang secara langsung merasakan manfaat dari gambut.
Juli 28, 2020

Product Best Sellers

0 responses on "Pentingnya Menjaga Lahan Gambut"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *