Diskusi mengenai siapa yang lebih bertanggung jawab akan mewujudkan ekosistem usaha yang ramah lingkungan memang seru dibahas, karena pada dasarnya memang paling gampang kan kalau berharap orang lain yang melakukan sesuatu, bukan kita yang berubah. Sebagian berpendapat bahwa pelaku usaha memiliki tanggung jawab yang lebih besar, sebagian sisanya berpendapat bahwa konsumen yang menentukan demand yang ada di pasar. 
Beberapa waktu lalu, Cleanomic berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol bersama Mbak Dini (yang bisa ditemui melalui Instagramnya @DKWardhani) selaku seorang dosen, penulis buku, serta pelaku gaya hidup peduli lingkungan sebagai bagian dari #CleanRamadhan series. 
Pada sesi Instagram Live tersebut, kami sempat membahas siapa yang punya peran lebih besar untuk mewujudkan ekosistem usaha yang ramah lingkungan. Dinamika hubungan antara pelaku usaha dan konsumen saat ini kurang lebih demikian; pelaku usaha memosisikan konsumen sebagai raja. Hal ini menyebabkan munculnya pandangan bahwa menyiapkan kemasan yang cantik merupakan bagian dari service yang baik bagi konsumen. Malah kadang kemasan yang menarik yang bikin konsumen laper mata terus beli produknya sehingga berpengaruh terhadap experience yang dialami oleh konsumen.
Dari sisi konsumen, seringkali merasa tidak memiliki kuasa sebesar itu untuk merubah pola konsumsi yang ada di masyarakat. Kan sudah tersedia dari sananya. Pernah terlintas pikiran seperti itu?
Mungkin agak sulit untuk menemukan jawaban singkat dan instan dari diskusi ini. Namun, Cleanomic percaya bahwa setiap kita, apapun peran kita, punya bagian masing-masing yang dapat kita kerjakan, sebelum kita menunggu dan menuntut pihak lain untuk beraksi. 
Sebagai konsumen misalnya, setelah kita memutuskan bahwa kita benar-benar perlu untuk membeli suatu barang, kita bisa kan memilih produk dari sekaligus mendukung usaha-usaha yang sudah menerapkan inisiatif lingkungan. 
Sedangkan dari sisi pelaku usaha, banyak banget sebenernya yang dapat dilakukan, karena bisnis yang ramah lingkungan nggak selalu bicara soal kemasan yang diterima ke konsumen. Pendekatan ramah lingkungan itu sesuatu yang holistik, dari hulu ke hilir. Dari proses pra-belanja, proses produksi, hingga terakhir proses distribusi.
Jika memang rasanya penggantian kemasan masih belum dapat dilakukan karena berbagai alasan. Ada hal-hal lain yang dapat kita lakukan. Misalnya, mengurangi sampah yang ada di kantor sebisa mungkin, kemudian memilahnya, menghimbau karyawan untuk membawa tempat makan dan tempat minum sendiri, atau menerapkan pemilahan sampah di rumah masing-masing dan pada proses produksi barang.   Bahkan setidak-tidaknya, sebagai pelaku usaha bisa menyisipkan pesan hijau untuk konsumennya dengan mengingatkan agar kemasannya dipilah dengan baik.  Juga menyisihkan sebagian keuntungan untuk didonasikan ke karbon biru dan penanaman pohon, misalnya. Kontribusi sekecil apa pun berharga!
Menanggapi ini, Mbak Dini mengingatkan tentang pentingnya mempelajari, merefleksi, dan mengadopsi kembali model bisnis di masa tradisional. Bagaimana mereka melakukan transaksi? Apakah mungkin ada cara-cara yang masih relevan dan bisa dilakukan di masa sekarang? 
Salah satu yang masih relevan dan dapat dilakukan adalah memilih untuk melakukan transaksi dengan orang terdekat. Selain membantu usaha orang yang kita kenal sendiri, hal ini juga mempermudah approach yang leih personal. Sehingga, kita bisa bertanya opsi-opsi yang lebih ramah lingkungan, misalnya apakah kita dapat menggunakan wadah kita sendiri saat kita membeli makanan? Atau request untuk menuangkan sambal langsung ke makanannya sehingga tidak membutuhkan kantong plastik tambahan.
Kalau disimpulkan, pelaku usaha dan konsumen pada akhirnya mempengaruhi satu sama lain. Jika konsumen sudah mulai aware tentang inisiatif ramah lingkungan dan lebih selektif akan transaksi yang akan mereka buat, tentu pelaku usaha akan mengikuti selera pasar dan berusaha semaksimal mungkin agar dapat memenuhi permintaan konsumen.
Dan jika pelaku usaha secara kolektif sudah bergerak ke arah yang lebih ramah lingkungan, konsumen juga akan mengonsumsi apa yang tersedia di pasaran. To put it shortly, memang dibutuhkan kerja bahu membahu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. It’s a long shot, but worth a try!
In the end, perlu juga ada kesadaran bahwa bukan berarti masalah yang nggak keliatan itu nggak ada. Seperti sampah rumah tangga kita, misalnya. Meski udah nggak terlihat wujudnya lagi karena udah diambil oleh pengepul dan tukang sampah, but they ended up somewhere dan nggak hilang begitu aja. 
Yuk mari kita sama-sama mengerjakan bagian kita untuk menciptakan ekonomi sirkular, baik sebagai pelaku usaha atau konsumen! We can do this!

Product Best Sellers

0 responses on "Menjadikan Usaha Ramah Lingkungan, Tanggung Jawab Siapa?"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *