Di tengah kegelisahan saya terhadap masalah sampah di Lombok, saya dipertemukan dengan Aisyah Odist. Seorang pencinta lingkungan yang berhasil mengubah wajah Dusun Selaparang yang kumuh, menjadi kampung penuh warna yang menginspirasi dan memberdayakan.
***
Warna memang mampu mengubah mood dalam waktu singkat. Rumah kumal tampak ceria setelah dicat menjelang hari lebaran. Wajah pucat tampak segar selepas dipoles gincu merah. Kampung kumuhpun terlihat lebih cantik setelah dibubuhkan cat beraneka warna.
Itulah yang terjadi dengan lingkungan Selaparang, Mataram, Lombok, yang kini bernama Kawis Krisant (Kampung Wisata Kreatif Sampah Terpadu). Tak sampai setahun yang lalu, daerah ini masih menjadi kawasan kumuh. Warga di sini memang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan sampah. Hanya berjarak dua meter dari rumah mereka, terdapat sungai kotor tak terawat. Sampah rumah tangga pun dibiarkan teronggok begitu saja tanpa ada perasaan bersalah.
Namun kini kawasan itu berubah total. Tak hanya tampilan fisiknya saja, tetapi mental warganya juga turut mengalami perubahan yang dramatis. Setiap hari, pukul 4 sore, warga serentak menenteng sapu dan mulai membersihkan lingkungan. Mereka pun kini tak lagi membuang sampah di kali. Lebih membanggakannya lagi, masyarakat sekarang sudah mulai menjalankan pemilahan sampah.
Limbah non-organik mereka kumpulkan, kemudian ditabung di Bank Sampah NTB Mandiri pimpinan Kak Aisyah. Setiap nasabah mendapatkan buku tabungan layaknya menabung di Bank. Sampah ditukar dengan uang. Uang tersebut dapat ditarik sewaktu-waktu.  “Ada warga yang berhasil menabung sampah sampai Rp. 400,000,” ujar kak Aisyah. Keberhasilan ini menyebar dari mulut ke mulut. Warga pun semakin bersemangat mengelola sampah-sampah mereka.
Selain warga setempat, masyarakat yang tidak tinggal di sekitar Kawis Krisant juga boleh menjadi nasabah. Saya sendiri yang merupakan warga Praya, secara rutin menabung eco brick, yaitu sampah-sampah plastik yang dipadatkan ke dalam botol air mineral. Eco brick ini bisa digunakan sebagai pengganti bata konvensional. Di luar negeri, sudah ada contoh-contoh bangunan yang dibuat dari eco brick ini. Sebuah komunitas di Jogja juga sudah memanfaatkan eco brick sebagai bahan baku pembuatan furniture. Semangat Bersatu, Bergerak untuk Berbenah
Kak Aisyah merasa bertanggung jawab dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Selain kumuh dan kotor, para pemuda di sini pun pada mulanya tak memiliki kegiatan positif.
Untuk itulah ia mulai berusaha mengedukasi warga agar mau bersatu dan bergerak untuk berbenah. Hasilnya di luar ekpektasi. Kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun antara kak Aisyah dengan warga, ternyata membawa dampak positif terhadap program yang ia tawarkan.
“Kepercayaan itu dibangun jauh sebelum saya berpikir akan membuat Kawis Krisant”. Ujarnya.
Warga menyambut baik ajakan kak Aisyah.
Kawasan Kawis Krisant pun kini semakin cantik setelah dibenahi. Wisatawan asing berbondong-bondong datang kemari. Baru-baru ini, Kawis Krisant menyambut rombongan tamu dari Austria. Mereka tidak hanya tour keliling kampung, tetapi juga menginap di rumah warga dan belajar manajemen pengelolaan sampah.
Wilayah Kawis Krisant dibagi ke dalam enam sektor. Pengunjung bisa datang sendiri ke sini ataupun dengan didampingi oleh adik-adik SATGAS. Untuk tamu rombongan (misalnya dari sekolah/organisasi tertentu), sebaiknya menghubungi pihak Kawis Krisant terlebih dahulu sebelum datang kemari.
Memasuki wilayah Kawist Krisant, pengunjung akan disambut oleh mural yang beraneka warna. Gambar-gambar ini dibuat oleh komunitas Lukis di Lombok. Kebanyakan mural di sini bercerita tentang budaya suku Sasak.  Selain banyak spot foto kekinian, kita juga bisa mengikuti workshop membuat beraneka macam kerajinan dari sampah. Kak Aisyah sudah mengekspor berbagai kerajinan ini ke luar negeri loh.
Menariknya, sebagian karyawan kak Aisyah yang membuat produk-produk ini merupakan wanita penyandang disabilitas. Bahkan ada yang merupakan tuna netra. Itulah mengapa dari awal saya katakan, Kawis Krisant merupakan kampung warna-warni yang memberdayakan.
Ada juga Panggung Sarief dan Taman Pintar. Menurut SATGAS yang mendampingi saya, Panggung Sarief ini dibangun di atas Septic Tank loh! Untung saya tidak mencium aroma apapun selama di sini.  Sedangkan Taman pintar, merupakan area tempat adik-adik SATGAS belajar beragam skill baru. Salah satunya bermain perkusi. Pengunjung bisa mendengarkan alunan musik pinggir kali ini setiap hari Sabtu pukul 5 sore.
Selain itu, masih banyak lagi area yang di design dengan khusus oleh warga, lahan tempat warga melakukan segala hajatan, rumah kompos tempat pengunjung bisa melihat dan belajar proses pembuatan kompos dari awal.  Lengkap bukan? Dalam satu kunjungan kemari, kita bisa belajar mengelola sampah organik dan non-organik sekaligus.
Siapapun bisa mengecat kampungnya menjadi berwarna. Mengkamuflasekan kekumuhan dan kemiskinan dengan warna-warni cat yang apik.
Tapi dampak Kawis Krisant jauh lebih dalam. Ia mampu memberikan solusi bagi berbagai masalah dalam satu atap. Mulai dari masalah sampah, lingkungan, kemiskinan, disabilitas, pendidikan karakter, ekonomi, serta sustainable tourism.
Bagi saya, Kawis Krisant merupakan tempat paling inspiratif dan memberdayakan yang pernah saya datangi dalam beberapa tahun terakhir.
***
Alamat Kawist Krisant:
JL. Leo No.24 Lingkungan Banjar Selaparang Ampenan, Pejeruk, Ampenan, NTB (Belakang Bank Sampah NTB Mandiri)
Instagram:
@kawiskrisant

Tulisan disadur dari blog Tusenna, yang telah di edit untuk keperluan editorial.

 

Product Best Sellers

0 responses on "Kawis Krisant, Lombok; bukan sekedar kampung warna warni"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *