Bulan Ramadan memang momentum untuk perbaikan diri. Berbuat baik terhadap sesama sudah wajib. Tidak hanya terhadap sesama, tapi perlu juga berbuat baik terhadap lingkungan. Caranya juga mudah kok, dengan mengurangi sampah. Kenapa ya?
Di bulan Ramadan, umat muslim mesti lebih mengendalikan diri dari nafsu-nafsu duniawi. Dengan aktivitas yang berkurang, sampah sebagai salah satu output aktivitas manusia semestinya berkurang juga. Pada kenyataannya, sampah di masa Ramadan menjadi meningkat. Banyak beritanya, dan gak hanya di kota besar seperti Jakarta, tapi juga dimana-mana, dengan angka peningkatan sekitar 10-20%. Lalu apa yang mesti kita lakukan dong?
Kurangi sampah! Selain karena memang hal tersebut mengurangi beban para pekerja di sektor pengelolaan sampah dan juga beban lingkungan, serta amanat UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwanya tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan (Fatwa MUI Nomor 41 Tahun 2014).
Isinya apa nih? Jadi MUI sudah mengharamkan membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan diri maupun orang lain, dan mewajibkan muslim untuk menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf. Apa itu tabdzir dan israf? Tabdzir adalah menyia-nyiakan barang/harta yang masih bisa dimanfaatkan menurut ketentuan syar’i ataupun kebiasan umum di masyarakat, sedangkan Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan barang/harta melebihi kebutuhannya.
Pas banget nih sebenarnya. Karena menurut observasi beberapa pihak pengelola sampah di beberapa kota, sampah yang meningkat salah satunya adalah sampah makanan atau sampah bungkusan makanan. Lapar mata, mungkin ya, tapi sayang, malahan jadi terbuang karena perut sudah kenyang.
Jadi apa yang harus dilakukan? Yuk kurangi sampah kita, sekalian menambah ibadah kita di bulan Ramadan dengan 5 cara gampang ini:

1. Tahan diri

Yes, persis seperti esensi puasa. Tidak perlu berlebihan. Termasuk makanan, dan barang-barang lain. Buka puasa, cukup dengan kurma (dan air putih), seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sebenernya gak perlu gegap gempita beli ini beli itu, karena dengan beli ini beli itu, potensi sampah kita jadi meningkat.

2. Meal planning

Dengan ada rencana mau makan apa aja, bahan makanan yang dibeli bisa pas sesuai dengan kebutuhan. Sekaligus termasuk di dalam meal planning ini, beli secukupnya saja. Jangan sampai ada yang terbuang karena tidak termakan dan disimpan terus hingga rusak dan mesti dibuang. Beberapa waktu lalu sempat beredar info dari Pusat Makanan dan Nutrisi Barilla bahwa Indonesia adalah penyumbang sampah makanan (food waste) kedua terbesar di dunia, yaitu sebesar 300 kg per orang pertahun. Dari 300 kg itu, dari data FAO dapat diketahui sekitar 24 kg-nya dapat dicegah dengan perbaikan perilaku konsumen. Meal planning ini salah satu cara untuk mencegah porsi 24 kg ini. Kalau dihubungkan dengan Fatwa MUI di atas, dengan meal planning ini kita udah berupaya untuk menghindari Tabdzir!

3. Bawa wadah sendiri

Beli es kelapa, pakai botol air atau termos besar. Beli kopi? Pakai tumbler sendiri. Beli martabak atau kue? Pakai tempat bekel sendiri. Jangan lupa, bawanya gak usah pakai kantong plastik ya!

4. Substitusi

Substitusi apa? Substitusi makanan yang manis-manis untuk berbuka, dengan kurma atau buah, supaya lebih sehat dan sampah kemasannya bisa dikurangi. Sampah buah bisa dikompos pula. Substitusi makanan beli jadi dengan bahan makanan segar dan masak sendiri. Selain bisa sekalian dikit-dikit belajar masak, sampah bahan makanan segar bisa dikompos, dan peluang kita mengurangi sampah kemasan lebih besar lagi.

5. Pilah sampahmu!

Dengan memilah sampah, peluang sampah kita tidak perlu diangkut ke TPA dan termanfaatkan pihak lain lebih besar. Contohnya, botol plastik dan botol kaca yang dipilah bisa ditemukan dengan lebih cepat misalnya di wadah sampah rumah kita (oleh pemulung keliling), atau di TPS saat sedang disortir. Memilah karton atau kardus sehingga tidak terkotori dengan sampah makanan juga membuat karton/kardus itu bisa diambil oleh pemulung. Dengan memilah sampah, barang-barang yang bisa dimanfaatkan/dipulung ini jadi lebih bersih dan bernilai lebih baik untuk si pemulung. Nambah deh perbuatan baik kita untuk orang lain. Termasuk di kategori pilah memilah ini adalah dengan memilah sampah organik (bekas masakan atau makanan) untuk dijadikan kompos. Dengan mengompos sampah kita, petugas sampah tidak perlu membawa sedikitnya setengah dari sampah kita. Artinya kita mengurangi beban petugas sampah; termasuk perbuatan baik kan ya?
Yuk ah, tambah ibadah kita (mulai) di bulan Ramadan ini dengan kurangi sampah kita!

Product Best Sellers

0 responses on "5 Cara Mudah Menambah Ibadah dengan Mengurangi Sampah di Bulan Ramadan"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *