Kata orang-orang, manusia tidak bisa hidup tanpa plastik. Gimana kamu merespon pernyataan tersebut? Apakah menurutmu itu fakta? If you find it hard to answer that, gimana kalo kita coba praktekkin sehari aja bertahan hidup tanpa plastik? Do you think that it’s even possible?
Mungkin kamu bisa menahan nafsu untuk puasa membeli boba dalam sehari. Atau mungkin minum boba adalah asupan harian yang tidak bisa kamu lewatkan, dan kamu memilih membawa reusable tumblr dan sedotan stainless. Setidaknya kamu nggak menghasilkan sampah di hari itu. That could work also. Tapi bisakah kamu mempertahankan gaya hidup demikian berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? 
Jangan lupa, berarti kamu juga tidak bisa menggunakan jasa aplikasi pesan antar makanan itu lho, mengingat begitu banyaknya sampah yang dihasilkan dari pemesanan makanan lewat aplikasi. Or you think you can do that, dengan memasak makananmu sendiri dari rumah. Tapi apa kabar dengan pasta gigi, sampo, sabun yang dibungkus oleh packaging? Belum lagi makeup, skincare, dan barang-barang berkaitan dengan personal hygiene lainnya.
But if we think about it again, keberadaan plastik di muka bumi ini bukanlah sejak sebelum kehidupan manusia. Plastik sintetis pertama ditemukan pada sekitar tahun 1910 dan baru ramai digunakan pada tahun 1960. Sedangkan manusia, telah ada di muka bumi ini sejak berpuluh-puluh ribu tahun yang lalu. If you think you’re bad at math, we won’t judge but to put it simply, peradaban manusia telah ada jauh lebih awal dari masa-masa plastik diciptakan dan mulai digunakan.
Kalo begitu, kembali ke pernyataan di awal artikel ini, berarti idealnya manusia bisa hidup tanpa plastik. Setidaknya manusia pada zaman dahulu. Meski kehidupan di era modern tentu jauh berbeda dibandingkan dengan zaman purba, let’s see how life was back then before plastic. Siapa tau, meski dengan perbedaan zaman dan teknologi yang ada, ada cara bertahan hidup tanpa plastik yang bisa kita terapkan di kehidupan modern.

Tidak terlalu banyak pilihan

Zaman dahulu belum ada begitu banyak model pakaian, sepatu, dan aksesoris-aksesoris fesyen lainnya. Juga tidak ada model tas yang bermacam-macam. Intinya, hidup zaman dulu nggak seribet sekarang dimana kita setiap hari harus berjuang menahan diri untuk nggak membeli barang-barang lucu yang sebenernya nggak kita butuhin. Apalagi, semuanya kini bisa diakses sambil duduk depan laptop, dan diantar ke tempat kita tinggal pula.
Meski tentu, kita nggak bisa mengabaikan bahwa kebutuhan di era modern nggak sebatas hanya pangan-sandang-papan. Kini laptop dan perangkat digital lainnya pun merupakan kebutuhan untuk urusan pekerjaan. Kemudian kita perlu membeli case untuk melindungi mereka agar tidak baret-baret. Rasanya juga kurang bijak, kalo kita mengorbankan kebutuhan kita demi nggak nyampah. But hey we can do something about it sehingga kebutuhan kita tetap terpenuhi tanpa harus menghasilkan begitu banyak sampah.
Saran Cleanomic, coba investasi di barang-barang versatile dengan kualitas tinggi. Dengan demikian, kita nggak perlu repurchase berkali-kali karena barang yang kita beli cepat rusak. Dan yang terpenting, utamakan kebutuhan di atas urusan estetika. Kalau masih punya barang yang sama dan masih berfungsi dengan baik, hindari beli barang semata-mata karena lucu atau bagus untuk difoto.

Memperbaiki, bukan mengganti

Karena keterbatasan sumber daya dan teknologi, manusia zaman dulu menjaga barang-barang kepunyaan mereka dengan baik. Kalau sampai rusak, mereka nggak segampang itu dapat menggantinya dengan yang baru. Mereka pun punya kecenderungan untuk memutar akal bagaimana dapat me-repurpose barang-barang yang mereka punya menjadi sesuatu yang juga mereka butuhkan.
Begini misalnya, orangtua atau nenek kita seringkali membuat lap dari baju yang tidak lagi terpakai. Atau menaruh bahan-bahan makanan dalam kotak es krim (yang seringkali kayak jebakan betmen, kita kira es krim namun ternyata isinya cabe). Bekas kalender harian yang disobek pun, dikumpulkan, dan dijadikan buku untuk coret-coret atau mencatat nomor telepon. Pokoknya sungguh kreatif dan inovatif. 
Prinsip ini mungkin kesannya nggak relevan lagi di zaman sekarang, karena buang dan beli baru lebih praktis dibanding harus repot-repot mencuci, menggunting-gunting, dan hal-hal lain yang harus dilakukan dalam me-repurpose. Tapi setelah kita berhasil me-repurpose, kamu akan merasa puas mengetahui kalau ternyata kita bisa bertanggung jawab akan barang-barang yang kita punya dan bertanggung jawab akan kemana barang-barang itu akan berakhir. This being said, we can also feel good about ourselves by doing so. Isn’t it great?

Bisa karena terpaksa

Manusia zaman dahulu yang hidup sebelum era plastik mampu menerapkan minimal waste karena keadaan. They didn’t have that much choice and it’s not really an option to repurpose things. Awalnya karena terpaksa, lalu jadi terbiasa. Poin yang ini sangat mungkin kita terapkan.
Coba deh, buat sebuah sistem yang mengakomodir gaya hidup kita. Misalnya, sistem one in one out, dimana kita cuma boleh membeli baju baru sehabis memensiunkan satu baju pula. Buatlah sistem di area yang kita ingin coba improve. Saran Cleanomic sih, jangan membuat sistem yang terlalu ambisius. Sistem yang realistis akan membuat usaha untuk mencapai goal yang telah kamu tetapkan sebelumnya menjadi lebih berkelanjutan. Dan jangan lupa untuk sesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan ya. You know yourself and your needs better than anybody else. Terakhir, whatever happens, don’t forget to follow through! Pasang mindset bahwa sistem yang telah kamu buat itu bukanlah pilihan, namun kewajiban. Dengan begini, kamu nggak tergoda untuk sekali-sekali melanggar sistem yang kamu buat sendiri.
Nah, poin apa yang ingin kamu coba terapkan? Cleanomic wishes you a good luck! You can do it!
Mei 11, 2020

Product Best Sellers

0 responses on "How Was Life Before Plastic?"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *