Air yang kita nikmati sehari-hari, dalam bentuk apapun itu, ternyata hanya kurang dari 1% dari air yang ada di dunia ini. Dan berkat daur hidrologi (hayo inget-inget lagi pelajaran SD-nya!), air yang sudah dimanfaatkan sejak jaman batu, masih bisa dimanfaatkan hingga sekarang. Jadi kita minum air yang sama dengan yang diminum oleh dinosaurus!
Air ini, menurutku adalah barang yang selalu dianggap ada setiap waktu, kedua setelah udara. We almost always take it for granted. Air? Pasti ada, lah. Padahal it might not always be the case. Air, seperti juga udara, sambung menyambung di dunia ini. Droplet air yang saat ini di Jawa, mungkin pada saat menguap bisa turun jadi hujan di Sumatera atau bahkan di India (random). It’s almost like zero sum game! Dipakai disini, berkurang disana. Diambil di sana, disini berkurang. Jumlahnya ya kurang lebih segitu-segitu aja.
Mungkin bagi kita yang tinggal di bagian barat Indonesia, kurang terbayang bagaimana kalau tidak ada air, karena wilayah barat Indonesia sebagian besar tidak sulit air. Tapi kekurangan air itu adalah masalah nyata. Capetown di Afrika Selatan, contohnya, yang beberapa tahun lalu sudah kehabisan air bersih. Beberapa wilayah Jakarta seperti Kepulauan Seribu dan Jakarta Utara sebenarnya mulai susah air karena intrusi air laut yang parah.
Maka dari itu, kita sangat mesti conscious tentang air. Bagaimana caranya? Pada prinsipnya, ada 2 cara kita sebagai pengguna air berkontribusi menjaga air kita ini. Hemat air dan jangan cemari air. Tulisan ini akan fokus bahas yang pertama. Upaya penghematan air juga sebenarnya cuma satu intinya: kurangi pemakaian air (baru), dengan tiga hal utama yang bisa kita lakukan untuk menghemat air.

1. Perbaiki perilaku.

Nah, perilaku emang yang paling berpengaruh dalam jumlah pemakaian air kita. Di wilayah perkotaan, setiap orang memakai rata-rata hampir 150 liter per orang per hari. Masih belum kebayang? 150 liter itu sekitar 7 galon air isi ulang. Seorang, sehari.
Bayangkan kalau air sebanyak itu diambil dari dalam tanah. Salah satu akibatnya: penurunan tanah. Seperti Jakarta yang “anjlok” sekitar 12 cm per tahun, atau 1 meter selama satu dekade. Untuk yang masih pakai air dari PDAM, relatif lebih “aman” karena banyak PDAM mengambil airnya dari mata air atau air sungai.
Berikut ini beberapa perilaku yang menurutku besar pengaruhnya untuk menghemat air.

Mandi.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, dari yang 144 liter sehari itu, 60 liternya dipakai mandi. Banyak kan? Jadi sebaiknya emang mandi gak usah pakai lama. Rata-rata mandi dengan shower lebih hemat daripada dengan bak dan gayung. Tapi masing-masing punya potensi penghematan air. Dengan shower, potensi penghematan air adalah menutup keran shower saat kita sabunan. Sedangkan dengan bak dan gayung, potensi penghematannya adalah dengan hati-hati mengguyur badan dengan air. Jangan terlalu cepat, dan lebih baik dari atas, sehingga semakin besar permukaan badan yang terkena air. Satu gayung itu sekitar 1,5 liter. Jadi kalau kita mandi dengan 10 gayungan air, artinya kita menghabiskan 150 liter dalam sekali mandi.

Sikat gigi, dan cukuran jenggot/kumis.

Jangan buka keran sepanjang waktu kita melakukannya. Buka sedikit di awal untuk membasahi, tutup, lalu buka lagi saat mau membersihkan. Sama dengan cuci tangan.

Cuci piring.

Sama seperti cuci tangan dan sikat gigi. Buka kerannya cukup di awal untuk membasahi, tutup, cuci dengan sabun, lalu baru buka lagi kerannya.

Cuci baju.

Cucilah pakaian saat tumpukan baju cukup banyak dan sesuai kapasitas mesin.

Wudu.

Bagi umat Islam, wudu setidaknya 5 kali sehari. Kalau tiap kali wudu memakai 3 liter air, maka tiap hari tinggal dikali lima: 15 liter. Cara menghematnya? Nabi Muhammad SAW sudah contohkan caranya: Jaga wudu kita dan wudu dengan hanya satu mud (seukuran dua telapak tangan orang dewasa, atau sekitar ¾ liter) saja! Jadi gak usah yah buka keran sampe pol, sampe kayak mandi dan jadinya ciprat-ciprat membasahi orang sebelahnya yang lagi wudu juga.

2. Perbaiki peralatan yang tidak efisien.

Cek kebocoran pipa-pipa di rumah.

Kalau ada yang bocor, mendingan segera diperbaiki. Sayang banget kalau airnya terbuang padahal gak dipakai.

Pakai plumbing fixture yang bisa bikin hemat air.

Misalnya kepala shower untuk shower kamar mandi atau di mulut keran di kitchen sink. Dengan plumbing fixture seperti ini, sensasi mandi dan mencuci piring jadi berbeda karena tekanan airnya lebih besar, tapi tidak berarti penggunaan airnya menjadi lebih boros (kecuali kalau buka kerannya jadi lebih lama daripada biasanya). Beberapa plumbing fixture seperti ini meng-claim penggunaan air yang lebih hemat (dengan lama buka keran yang sama dengan saat tanpa memakai plumbing fixture ini).

Pasang instalasi air panas yang efisien

Punya instalasi air panas di rumah? Coba cek apakah airnya cepat panas ketika keran dibuka. Bila sistemnya tidak baik alias airnya gak langsung panas, ada potensi buang-buang air saat waktu menunggu airnya panas. Kecuali kalau airnya ditampung dulu saat menunggu panas, dan digunakan untuk keperluan lain.

Consider toilet yang hemat air

Berniat untuk ganti toilet? Sekarang sudah banyak toilet yang ada pilihan tombol untuk flush-nya. Yang kapasitas kecil untuk buang air kecil, dan yang besar untuk buang air besar. Jadi untuk menyiram pipis kita gak perlu banyak air lagi. Yang dipakai kira-kira setengah dari air siraman untuk buang air besar. Lumayan menghemat air.

Water Recycle System

Bikin rumah baru? Coba deh bikin recycle system, bikin sistem air cucian yang difilter untuk keperluan lain, seperti flushing toilet atau siram tanaman.

3. Mix water source. Pakai potensi air lainnya untuk keperluan sekunder.

Tampung air hujan.

Penting banget nih, apalagi saat musim hujan. Kalau bisa ditampung, untuk misal siram tanaman, bersihkan teras, cuci kaki, dan lainnya, artinya air ledeng, air sumur atau air lainnya yang biasa dipakai bisa dihemat. Jangan lupa, tutup tempat penyimpanan air hujannya supaya tidak jadi tempat berkembang biak vector penyakit seperti nyamuk.

Tampung air AC!

Ini nih yang sebenarnya potensi juga untuk dipakai. Sehari pasang AC di ruang keluargaku (sekitar 10 jam) airnya bisa sekitar 7,5 liter. Lumayan untuk siram tanaman di depan rumah.
Hemat air bisa berarti juga hemat listrik, hemat duit untuk listrik, dan hemat jejak karbon. Jadi sekali tepuk, 2-3 nyamuk kena. Siap untuk hemat air? Yuk mulai dari sekarang.
Mei 11, 2020

Product Best Sellers

0 responses on "Hemat Air Ala Kekinian: Cukup dengan 3 Cara Ini!"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *