Pertama-tama selamat Idul Fitri bagi teman-teman semua yang merayakan hari lebaran yah, ga berasa banget 30 hari puasa sudah berlalu dan berakhir juga rangkaian acara #cleanramadan ngabuburitnya.  Kami dari Tim Cleanomic, memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan kami dan semoga hari lebaran ini bisa jadi awal yang baru untuk kita semua.
Selama satu bulan kemarin, kami mengadakan rangkaian disksusi online dengan teman-teman kolaborator untuk membahas berbagai topik terkait lingkungan.  Banyak banget hal yang kami pelajari dari obrolan selama 1 jam ini, dan terima kasih banget teman-teman yang sempat ikutan partisipasi di acara live kami.  Buat yang ga sempet ikutan, kami sisipkan disini sebagian dari rekaman serta ringkasan diskusi kami yah, semoga bermanfaat buat temen-temen semua.

1.  Tips Ramadan Hijau

Temen-temen udah familiar dong sama Mba Dini @DKWardhani? Kalau belum, kalian wajib banget follow akunnya Mba Dini.  Mba Dini adalah penulis buku minim sampah yang dulu sempat jadi dosen teknik lingkungan, jadi ilmu beliau banyak bangeet. Dalam kesempatan ini, kami membahas tentang ramadan di tengah pandemi ini sebenernya merupakan peluang usaha yang banyak sekali untuk teman-teman yang punya bisnis.  Karena banyak orang yang tidak bisa bertemu sapa, akhirnya pada banyak yang saling kirim-kirim hampers kan.  Nah, tapi kirim-kirim hampers ini berpotensi juga menimbulkan sampah.  Apalagi volume sampah di Indonesia justru juga semakin meningkat ketika bulan ramadan.
Sebenernya banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi sampah-sampah tersebut. Plus, upaya untuk meng”hijau”kan bisnis kamu, ga melulu harus terpaku pada kemasan.  Apabila memang kemasan produk kamu belum dapat menggunakan kemasan pakai ulang atau kemasan ramah lingkungan, setidak-tidaknya kamu bisa memberikan pesan hijau untuk mengajak konsumen kamu untuk memilah sampah tersebut dan memberitahukan cara mendaurulang kemasan tersebut.
Kami juga sempat membahas tentang peraturan dari kementerian LH yang akan melarang penggunaan plastik, styrofoam, sedotan plastik dan kemasan sekali pakai lainnya yang nanti akan berlaku tahun 2030.  Banyak yang pesimis soal ini karena dianggap terlalu lama, tapi peraturan ini mengatur jangka waktu 10 tahun untuk memberikan waktu bagi pelaku industri untuk melakukan perencanaan matang untuk mengganti keseluruhan sistem produksi yang masih menggunakan produk-produk tersebut.
Daaaaan, masih banyak tips actionable serta hal lain yang kami bahas dalam diskusi ini, simak yah di video ini:

 

2.  Sadar Lingkungan di Tengah Pandemi

Diskusi dengan Mas Andy dari Sayapilihbumi kali ini seru banget sih karena kita membahas tentang sadar lingkungan dan berbagi perhatian di tengah lautan konten yang ada di luar sana.  Di masa pandemi ini sebenernya potensi untuk sadar tentang berbagai hal tuh banyak banget.  Untuk sebagian dari kita yang punya privilege untuk bisa kerja di rumah, banyak hal kan sebenernya yang mulai kita perhatiin nih.  Karena kita kaya memulai kebiasaan baru dan hidup baru kan.
Mengadaptasi kehidupan normal baru kita.
Kami bahas kebiasaan belanja online, memang kadang beli kemasan dalam plastik, tapi ada trik lain untuk ngurangin ini, misalnya kalau bisa nitip belanja sama tukang sayur langganan di pasar deket rumah dan bisa spesial request untuk ga dibungkus plastik. Atau belanja di toko sayur online seperti kecipir yang memang pengirimannya ga pakai pastik.
Di sisi lain, keharusan menjaga kebersihan diri sendiri, kita bisa jadi makin lebih aware kan soal lingkungan sekitar untuk jaga jarak, cuci tangan tapi gimana caranya bisa tetep hemat air kan?

3.  Puasa yang ramah lingkungan dan ringan di kantong

Ghita adalah seorang certified financial advisor, di masa kaya gini, Ghita mengingatkan lagi nih soal fakta bahwa kita tuh sekarang lagi mengalami krisis moneter yang sebenernya belum pernah ada presedennya sepanjang sejarah.  Krisis moneter yang dulu pernah terjadi, fundamentalnya bukan karena pandemi, dan yang jadi masalah, kita ga tau kapan pandemi ini berakhir.  Buat temen-temen yang masih beruntung punya pekerjaan dan penghasilan, penting banget untuk menjaga cashflow dan menguatkan dana darurat kalian.
Berhemat juga bisa salah satu cara mengakalinya, banyak lho kebiasaan kecil dengan mencoba hidup minimalis dan berkepedulian lingkungan yang sebenernya bisa menghemat pengeluaran kita.  Dengan tidak belanja mindlessly, bener-bener #beliyangperlu, serta niatan untuk mengurangi sampah, , usaha minimalisberpikir ulang atau belajar berkebun – itu bisa jadi hemat banget lho.

4.  Islam air dan lingkungan

Pak Hayu adalah Kepala Bidang Penelitian Lingkungan Hidup di Majelis Ulama Indonesia sekaligus pendiri ecomasjid.id.  Kami seneng banget belajar banyak dari beliau karena bener-bener nyadarin banget bahwa nilai-nilai agama Islam sangat environmental-oriented banget.
Islam menempatkan air sebagai hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, karena selain untuk bertahan hidup seperti minum, bertani, dan hal-hal jasmani lain, air juga penting untuk rohani karena kita memerlukan air untuk mensucikan diri sebelum beribadah.  Oleh karenanya, wajib bagi umat Muslim untuk menjaga air karena kita perlu air untuk melakukan kegiatan keagamaan.
Ada 3 pilar penting yang harus diterapkan, yaitu simpan air, jaga air dan hemat air.  Beliau mencontohkan konsep Eco Masjid yang sudah menerapkan prinsip-prinsip memanen air hujan, grey water recycling system, serta terus menerus edukasi umat untuk menjaga dan menghemat air.

5.  Cerita gambut di Indonesia 

Sebagai anak kota yang seumur hidup belum pernah melihat lahan gambut di habitat aslinya, kami langsung penasaran dong lihat instagramnya pantau gambut. Apa sih gambut itu?  Apa fungsi dan penting-nya gambut ini?  Direct impact masalah gambut ke kehidupan kita sehari-hari apa sih? Kan tiap tahun selalu kebakaran, ini kaya masalah yang keliatannya udah bisa diantisipasi jauh-jauh hari, tapi kok kejadian terus?
Ini adalah sebagian kecil dari pertanyaan yang kita bahas dalam diskusi ini.
Pantau gambut adalah sebuah organisasi yang memang kerjanya memantau pelaksanaan program pemerintah di bidang restorasi gambut di Indonesia.  Mba Lola cerita, bahwa selain fungsi gambut itu seperti sponge yang menyimpan air (asli nya si lahan gambut ini kan seperti rawa gitu yang basah), gambut ini juga penting untuk menyimpan carbon yang bisa mengurangi pembentukan efek rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.  Nah, karena gambut ini sebenernya adalah batu bara muda yang terbentuk dari ribuan tahun lamanya dan kalau kering itu mudah banget terbakar, alam udah punya cara sendiri untuk membuat mereka sustainable dengan adanya si rawa alami ini.  Jadi ketika si air di lahan gambut ini dikeringkan oleh manusia, untuk kemudian lahannya di buka untuk dibuat perkebunan, khususnya kelapa sawit, tentu akibatnya jadi mudah terbakar.
Website pantau gambut punya section menarik tentang cerita masyarakat yang hidup dekat dengan lahan gambut, recommended banget untuk di baca!

6.  Membangun Rumah Minim Karbon

Ternyata banyak yah temen-temen yang penasaran dengan proyek #MinisponsibleHouse yang sedang kami bangun.  Di IG live ini, kami tur ulang rumah yang sudah hampir jadi tapi belom kelar-kelar, dan kami jelaskan juga tentang fitur-fitur yang memang di design supaya mengefisiensikan penggunaan sumber daya terutama air dan listrik dalam pemakaian sehari-hari.
Oya, ada kuliah singkat juga mengenai sistem sanitasi perkotaan serta septitenk yah!

***

Terima kasih untuk temen-temen komunitas dan para narasumber yang sudah mendukung acara #Cleanramadan Ngabuburit tahun ini @Ecodeen.id@muda.environment.care, @pantaugambut,@Komunitas1000Kebun,@DKWardhani, @Integrita.fp, BuangDisini, @Sayapilihbumi dan @MallSampah!

 

 

Mei 25, 2020

Product Best Sellers

1 responses on "Cerita dari #Cleanramadan Ngabuburit"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *