When we talk about cosmetics, our choices are limitless. Di Indonesia sendiri aja, ada lebih dari 700 perusahaan kosmetik. Belum lagi brand dari luar negeri yang gak kalah banyaknya. Kebayang kan betapa variatifnya brand kosmetik yang bisa kita gunakan saat ini?
Di antara sekian banyaknya jenis brand dan produk kosmetik, kita sebagai konsumen punya power yang besar untuk menentukan pilihan kita. Pilihan kita ini akan mempengaruhi demand yang ada di pasaran yang dalam jangka panjang juga akan mempengaruhi supply di pasar. Yup, segitu berpengaruhnya perlakuan #BijakBerkonsumsi kita.
Nah, untuk menerapkan #BijakBerkonsumsi terutama dalam konteks beauty routine kita, prinsip yang pertama tentu aja, pakai yang ada dulu, kalau habis baru beli lagi. Memang sih, jari-jari ini suka gatel kalau ada kosmetik atau skincare yang lagi diskon padahal masih banyak produk yang belum tersentuh di rumah. Tahannnnn, you can do it!
Kalau memang kebetulan produk kecantikan di rumah kita sudah habis dan memang sudah saatnya membeli, terus langkah apa yang perlu kita lakukan? Prinsip kedua, choose local over international brands. 
Merk-merk yang diimpor dari luar negeri membutuhkan jejak karbon yang tentu lebih banyak. Lagi pula, dengan membeli barang lokal, kita mendukung kreator lokal dan memastikan keberlangsungan bisnis-bisnis lokal. Kita pun nggak perlu mengorbankan kualitas karena merk-merk lokal udah banyak yang kualitasnya setara bahkan menandingi merk-merk internasional. Mau tau apa yang lebih menarik lagi? Harga yang lebih murah, tentunya.
Prinsip ketiga, pertimbangkan juga kemasan dan kebijakan dari merk yang kita beli. Apakah kemasannya banyak berbahan plastik atau materi yang bisa didaur ulang? Apakah pengirimannya memakai plastik atau sudah mengusahakan pengiriman tanpa plastik? Apakah mereka menerima botol kosong setelah dipakai pembeli? Apa mereka punya inisiatif terkait lingkungan? Bahan-bahannya bagaimana, terbuat dari bahan ramah lingkungan kah?
Inisiatif-inisiatif ramah lingkungan yang perlu kita pertimbangin di atas, udah beberapa diterapkan oleh brand lokal lho! So, as a smart consumer, always ask yourself before every purchase; bisnis seperti apa yang kamu ingin dukung? Mudah-mudahan jawabannya untuk brand yang mendukung #GreenEconomy ya!
Di bawah ini, Cleanomic udah merangkum beberapa brand baik lokal maupun internasional yang punya inisiatif-inisiatif ramah lingkungan, sekecil apapun skalanya. Read on to know more!
  1. BLP Beauty 

BLP Beauty, brand milik Lizzie Parra (hence the name, By Lizzie Parra) seorang MUA dan beauty vlogger ini memiliki program There’s A Box for That atau #TABFT.
Simpel, intinya mereka menerima kemasan produk yang telah terpakai dari pembeli, yang akan disalurkan ke Waste 4 Change untuk diolah dan didaur ulang.
Menariknya, selain kamu berkontribusi untuk mengurangi sampah kemasan produk berakhir luntang-lantung dan nggak tau gimana nasibnya, dengan mengikuti program #TABFT kamu akan mendapatkan reward. Setiap 1 produk akan dihadiahi 1 stempel dan kalau kamu sudah memiliki 10 stempel, kamu bisa mendapatkan potongan sebesar 25 ribu untuk pembelianmu! Who’s not interested in discounts and cashback?
At the time of writing, mereka baru bisa menerima kemasan kosong dari produk BLP, bukan dari merk lain. Kalau kamu tertarik ikutan program ini, simpan kemasan produk BLP yang telah kosong dan setor ke offline stores mereka yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Jogjakarta.

2. RUNA Beauty

“We put sustainability at the core of our foundation”
Kalau kamu mengunjungi laman web RUNA Beauty atau yang dapat juga ditemui di Instagramnya @madebyruna, kamu pasti akan menemukan banyak sekali prinsip sustainability yang diusung brand lokal ini. 
Berdiri pada tahun 2019, RUNA mengusung konsep clean beauty. Tapi memang brand seperti apa sih yang dapat dianggap ‘clean’? Mari kita bahas apa yang dimaksud dengan clean beauty dulu ya.
Clean beauty, artinya produk-produk kecantikan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan manusia dan lingkungan. Dengan prinsip ini, produk tersebut biasanya menggunakan bahan baku yang tidak berbahaya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Paraben dan bahan pewangi sintetis, misalnya.
Mungkin kamu udah sering mendengar bahayanya kandungan paraben di kosmetikmu, tapi ada beberapa bahan yang nggak cuma bahaya untuk kesehatan pemakainya, tapi juga kelestarian lingkungan. Salah satunya palm oil.
Pemanfaatan palm oil ini biasanya erat kaitannya dengan deforestasi, perubahan iklim, perebutan lahan, animal cruelty, dan dilema-dilema etis lainnya. Dalam laman websitenya, RUNA menyebut bahwa produk mereka diformulasi dengan bahan-bahan yang didapat secara etis dan berkesadaran.
Kemasan produk mereka pun, dipilih dengan baik sehingga dapat didaur ulang. Misalnya, produk hand sanitizer mereka yang terbuat dari kaca dan bukan plastik. Juga kemasan untuk pengiriman yang diusahakan terbuat dari material-material yang dapat didaur ulang seperti kertas dan box, bukan plastik. Bahkan, kartu ucapan terima kasih mereka bukan terbuat dari kertas biasa, melainkan seed paper yang dapat ditanam dan menjadi tumbuh-tumbuhan di taman kita. Benar-benar tidak ada yang terbuang deh jadinya!
Bahan dasar produk, kemasan, sampai kartu terima kasih sudah dipikirkan matang-matang agar tidak merusak lingkungan. Nggak cuma sampe situ aja nih. Mereka juga menerapkan prinsip upcycling, atau proses meningkatkan nilai guna suatu material dengan mentransformasikannya menjadi benda lain.

Pouch di atas, terbuat dari material-material PVC yang didaur ulang, disulap hingga berbentuk pouch yang secantik itu. Isn’t that amazing? Terakhir, produk-produk RUNA juga  memiliki klaim cruelty-free yang artinya produk-produk mereka tidak diuji ke hewan dalam proses pembuatannya.

3. Leaf Juice Skincare

View this post on Instagram

Vegan, Eco-Packaging & Gorgeous 🌿 Our eye shadow is highly pigmented, long lasting, and absolutely stunning. Made from mica and pressed in an eco-friendly paper box. Available in 3 colour palettes with 4 shades each for perfect blending.⁣ ⁣ Price: S$25⁣ ⁣ Shop for it online here: https://www.leaf-juice.com/?s=eye+shadow⁣ ⁣ #ecopackaging #micaeyeshadow #naturalmakeup⁣ .⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⁣⁣ .⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⁣⁣ .⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⁣⁣ #skincarebali #naturalskincarebali #naturalcosmetics #essentialoils #healingoils #plasticfreeliving #zerowasteskincare #skincareblogger #healingoils #zerowasteskincare #naturalskincare #goingzerowaste #ecofriedlyproducts #plasticfreeliving

A post shared by Leaf Juice Skincare (@leafjuiceskincare) on

Selain brand-brand makeup, ada juga kok brand skin and body care yang juga mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan tanpa mengurangi kualitas produknya. Contohnya ini nih, Leaf Juice Skincare.
Brand asal Batam ini dibuat handmade dalam small batch sehingga terjaga kesegaran produknya. Semua kemasan mereka juga berbentuk kaleng, sehingga lebih dapat didaur ulang dibandingkan dengan plastik. 
Produk-produknya sendiri, selain barang-barang yang mungkin kita udah familiar, seperti sabun dan sampo batangan, sikat gigi bambu, dan sedotan stainless, juga ada pasta gigi eco-friendly yang dikemas dalam tabung. Bentuknya seperti tablet dan dikunyah, sehingga akan tetap higienis meski dikemas dalam kaleng.
Leaf Juice juga mempunyai toko offline selain di Batam juga di Ubud. Jika kamu tidak tinggal di 2 daerah tersebut, kamu masih bisa mencoba brand yang satu ini kok, karena mereka juga melayani pengiriman bahkan nggak cuma lokal namun juga internasional.
Produk-produk Leaf Juice diklaim vegan, cruelty-free, dibuat dari bahan-bahan natural, serta reef friendly, yang artinya tidak membahayakan batu karang.

4. The Body Shop

Siapa sih yang nggak tau brand ini? Selain cabangnya udah banyak banget di seluruh dunia, The Body Shop ini bisa dibilang merupakan ‘pemain lama’ di bidang sustainable beauty, jauh sebelum awareness tentang gaya hidup berkelanjutan ini tersebar dan diketahui banyak orang. Bahkan, mereka juga pelopor dari praktik fair trade di bidang beauty.
Praktik fair trade ini mengacu pada praktik perdagangan yang sehat, yang menjunjung tinggi dialog, transparansi, serta rasa hormat ke pihak-pihak yang terlibat dalam proses perdagangan tersebut, termasuk para pekerja, para pemilik lahan, dan pihak lainnya.
The Body Shop ini memastikan praktik memproduksi dan mendistribusikan produknya, dari hulu ke hilir, menjunjung tinggi prinsip berkelanjutan. Bahkan, nggak jarang The Body Shop menyetop produksi salah satu lini produknya ketika mereka sudah nggak bisa lagi mengakses ethical source untuk memproduksi produk tersebut.
Selain dari sumber bahan baku, cara mendapatkan bahan baku untuk produk mereka juga dipilih yang paling less harmful. Terkadang cara-cara konvensional yang mungkin jauh dari kata cepat dan efisien pun ditempuh.
Setelah bahan baku didapat, The Body Shop juga benar-benar serius memikirkan cara mengolah bahan tersebut. Mereka mengusahakan banget agar proses pengolahan produk tetap menghasilkan water footprint yang rendah, serta menerapkan prinsip green chemistry, atau proses kimiawi yang berusaha jauh-jauh dari bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan.
Sumber daya manusianya, juga diperhatikan dengan baik lho. Mereka sadar akan adanya modern slavery atau kecenderungan untuk mengeksploitasi pekerja-pekerja pabrik dan pengrajin, dan mereka berkomitmen untuk nggak ikut-ikutan mendukung modern slavery. 
Intinya, there’s a lot going on behind what we can see from The Body Shop. Cleanomic rasanya sampai kehilangan kata-kata, melihat keseriusan The Body Shop yang secara berkelanjutan terus menerus mempraktekkan sustainable beauty, mengevaluasi, dan meningkatkan efektivitasnya jika dirasa perlu.
Kalau inisiatif-inisiatif yang bisa dirasakan langsung oleh kita, beberapa di antaranya yaitu menerima botol kosong pemakaian kosmetik. Dan nggak cuma terbatas untuk produk-produk The Body Shop aja ya, mereka pun menerima kemasan kosong kosmetik dari brand lain, meski jadinya kamu nggak dapet reward berupa poin. 

5. LOLI Beauty

Mungkin kamu nggak terlalu familiar dengan brand skincare yang merupakan singkatan dari Living Organic Loving Ingredients ini. But we want to let you know that this brand is worth mentioning.
Selain karena brand ini juga memberlakukan praktik fair trade, keunikan brand ini terletak pada bahan-bahannya yang nggak cuma organik, tapi juga food grade! Meski nggak diformulasi untuk dimakan, dengan label food grade ini, bahan-bahan yang dipilih biasanya memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.
Logikanya, kalau kamu aja nggak mau mengonsumsi suatu bahan karena kamu tau itu nggak bernutrisi dan cenderung membahayakan, kenapa juga mau mengaplikasikannya ke kulit? LOLI Beauty juga percaya bahwa skin concern setiap orang berbeda-beda, oleh karena itu mereka memfasilitasi hal tersebut dengan program Blend It Yourself. Kalau biasanya kita tinggal pilih dari apa yang disediakan oleh brand-brand, kini kita bisa menyesuaikan produk skincare berdasarkan ingredients that work best for us. Isn’t personalization always a plus point? 
Meski kesannya menyeramkan buat kamu yang pemula dan belum terlalu paham dengan kombinasi ingredients-ingredients dan reaksinya di kulitmu, rest easy karena mereka juga menyediakan resep yang kamu bisa ikuti di laman websitenya. You’re not gonna be left alone and clueless, that’s for sure.
Hampir semua produk LOLI dikemas dalam bentuk toples kaca, sehingga pasti bisa digunakan kembali. Mengingat bahan-bahan mereka tergolong food grade, jangan takut untuk mengalihfungsikannya jadi wadah selai atau bahan makanan ya, karena sudah pasti aman!
LOLI berdomisili di New York dan sejauh ini belum melakukan worldwide shipping. Just keep an eye out of this one, siapa tau beberapa saat lagi brand ini melakukan ekspansi atau kemungkinan yang lain, kita dapet kesempatan untuk jalan-jalan ke negeri Paman Sam.

6. ZAO Organic Makeup

Dari pandangan pertama melihat produknya, we definitely can already tell that it’s sustainable! Alih-alih pake plastik seperti kosmetik pada umumnya, ZAO, brand kosmetik organik di Amerika memilih bambu sebagai bahan utama kemasan produknya dengan banyak pertimbangan. Salah satunya karena bambu sudah dapat dimanfaatkan pada umur 3-5 tahun, sedangkan pohon berkayu lainnya membutuhkan waktu 10-30 tahun.
Moving on to their products, mereka memiliki sertifikasi bahwa mereka menggunakan bahan-bahan organik sebagai bahan pembuatan kosmetik mereka, jadi tentu mereka nggak menggunakan kata organik sebagai strategi marketing semata, atau bahkan lebih jauh, greenwashing. 
Bahan yang dipilih pun ga hanya organik, tapi dipilih yang berkualitas baik, bebas dari pestisida dan pupuk kimia. Polusi ke tanah serta air tanah juga diminimalisir sedemikian rupa. Semua produk ZAO berklaim vegan dan cruelty-free, mereka pun menawarkan produk-produk yang dapat diisi ulang.

7. Elate Cosmetic

View this post on Instagram

Reveal your inner beauty and outer glow with Elate's Creme Revealer. ⁠ ⁠ Packed with Sea Buckthorn, Jojoba oil, and Bamboo stem extract, our Creme Revealer is made with clean ingredients – and chosen with kind intentions to help bring forth your best features. ⁠ ⁠ Support your beauty rituals with a FREE 7-piece @Graydonskincare gift + bonus pouch with orders over $75. Limited quantity-while supplies last. *No code necessary⁠ ⁠ ⁠ .⁠ .⁠ .⁠ ⁠ #ElateCosmetics #ElateBeauty #ownyourbeauty #loveelate #crueltyfree #greenbeauty #capsulebeauty #ecobeauty #seedpaper #minimalpackaging #lowwastepackaging #composting #lowwastebeautyroutine #veganbeauty #cleaningredientconcealer #concealer #ecoconcealer #concealers #concealerobsess #bestconcealer #cleanconcealer #veganconcealer #veganbeautyaddict #cleaningredients #toxicfreemakeup #crueltyfreemakeup #lowwaste #cleanbeauty #cleanbeautyroutine #skinfirst⁠ ⁠

A post shared by Elate Cosmetics🌈 (@elatecosmetics) on

Brand kosmetik asal Kanada ini, mengusung prinsip conscious beauty yang berfokus pada 5 aspek; impact, ethics, community, future, dan mission. Satu pandangan mereka yang menurut Cleanomic menarik adalah bahwa each individual effort will create a global impact. Dan perubahan bisa dimulai dari mindset. Preach it, Elate!
Kalau kamu mengunjungi laman websitenya Elate, kamu akan melihat bahwa brand ini menjunjung tinggi transparansi. Mereka cukup terbuka untuk membicarakan banyak hal dan mengekspos serba-serbi tentang brand mereka, termasuk kultur kerja di perusahaan sampai usaha ethical marketing yang mereka usahakan.
Sebesar 2% dari profit mereka juga disalurkan untuk isu-isu yang sekiranya membutuhkan aliran dana, tentu ditujukan untuk yang mempunyai visi yang sama dengan Elate. Untuk mengetahui inisiatif-inisiatif mereka lainnya yang juga nggak kalah berdampak, coba kunjungi lama websitenya deh.
Produk Elate Cosmetic 100% vegan, cruelty-free, gluten-free, dan 75% organik.

8.LUSH Cosmetics

Nah, kalau brand yang satu ini mungkin udah nggak terlalu asing. Kemungkinan besar kamu udah pernah nggak sengaja lewat tokonya waktu kamu berkunjung ke negeri tetangga Singapura, atau bahkan, dari medsos.
LUSH merupakan salah satu brand yang cukup eye catching melihat dari warna-warna neon yang mereka pilih untuk produk-produknya. Juga tumpukan-tumpukan sabun dan sampo batang yang ditumpuk gitu aja di toko, tanpa kemasan sama sekali.

Cleanomic sendiri cukup menyukai brand ini, lantaran produk-produknya yang hampir semua wangi banget! Mereka juga tidak menggunakan kemasan yang berlebihan, dan jika memang membutuhkan kemasan, mereka membuka program recycle, mirip seperti yang BLP Beauty dan The Body Shop lakukan.
Cuma memang, produknya LUSH ini terkenal tidak tahan lama. Nggak heran, mengingat mereka menggunakan bahan-bahan organik dan tanpa pengawet buatan. Hal ini yang membuat shelf life produk-produk LUSH bisa hanya hitungan bulan aja.
Meski nggak terbuat dari 100% organik, LUSH tetap menghindari bahan sintetis berbahaya seperti paraben dan SLS. Mengenai pemilihan bahannya pun mereka cukup transparan, sehingga kamu bisa memilih produk yang sesuai dengan preferensimu; apakah kamu hanya mau menggunakan produk berbahan dasar organik atau mungkin, kamu tidak masalah dengan bahan sintetis selama tidak berbahaya.
Semua produk LUSH dibuat handmade, cruelty-free, dan vegetarian serta tidak diuji ke hewan. Dalam kegiatan produksinya LUSH juga menerapkan prinsip ethical buying. 

9. Aromatica

Aromatica merupakan brand asal Korea yang udah memenangkan beberapa award. Sebut aja Health & Beauty Awards tahun 2018 dan Olive Young Awards 2019 sebagai no. 1 brand hair care natural di Korea.
Tapi, produk Aromatica nggak cuma fokus di hair care aja lho. Mereka juga menyediakan produk skincare, body care, hingga feminine care juga makeup. Semua produknya lahir dengan praktik-praktik sustainability.
Selain pembuatannya dari bahan yang tidak berbahaya baik itu bagi manusia dan juga bagi lingkungan, mengurangi kemasan plastik dan label pada produk, Aromatica sadar bahwa sustainability itu sesuatu yang holistik, dan usaha-usaha sustainability-nya nggak seharusnya berhenti sampai situ aja.
Mereka melakukan energy conservation on daily basis mulai dari memilih pencahayaan alami dan opsi-opsi lain untuk mengefisiensikan pencahayaan di kantor mereka, menggunakan ulang serta mendaur ulang kertas-kertas yang dipakai, dan secara sadar memilih menggunakan dokumen digital dibandingkan menggunakan lembaran fisik.
Mereka juga melakukan water management dan teknologi energy-saving di pabrik mereka. Prakteknya, energi dari panas yang dihasilkan dari proses produksi di pabriknya dialihkan untuk keperluan-keperluan yang lain. How cool!
Cleanomic sih, seneng banget waktu baca-baca dan cari tahu soal brand ini. Mereka nggak melupakan kegiatan sehari-hari yang boros energi dan nggak ramah karbon, karena mereka sadar pada akhirnya akan terakumulasi dan ujung-ujungnya boros karbon juga. Small and everyday things matter a lot more than we think.
Kamu ingin mendukung Aromatic dan mencoba produk-produknya yang hampir sebagian besar natural dan memenangkan award ini? Kabar baiknya, Aromatic sudah sampai ke Indonesia dan sudah banyak distributor yang menjual barang-barang mereka.
Juni 15, 2020

Product Best Sellers

0 responses on "9 Green Beauty Brands Terfavorit"

Leave a Message

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *